JAKARTA, – Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI), Prof Kamaruddin Amin, mendorong optimalisasi pengelolaan wakaf produktif sebagai salah satu solusi pembiayaan alternatif untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Hal tersebut disampaikan dalam Prof Kamarudin saat membuka Seminar Nasional bertajuk “Penyediaan Solusi Pembiayaan Wakaf Produktif untuk Memperkuat Ketahanan Ekonomi Nasional” yang digelar secara daring dari Jakarta, Selasa (5/8/2025).
“Kita terus berikhtiar, terus bergerak untuk meningkatkan kualitas perwakafan di Indonesia. Capaian kita memang sudah banyak, tapi tantangan elementer juga masih sangat banyak,” kata Kamaruddin.
Salah satu tantangan utama, menurut dia, adalah proses sertifikasi tanah wakaf. Dari sekitar 451.000 titik tanah wakaf di seluruh Indonesia, baru 53 persen yang telah bersertifikat. Kamaruddin menekankan, hal ini merupakan pekerjaan mendasar yang harus diselesaikan bersama, terutama antara BWI dan Kementerian Agama.
Kamarudin juga menyoroti pentingnya digitalisasi pengelolaan wakaf hingga tingkat kecamatan. Meski langkah digitalisasi sudah dimulai, sejumlah pekerjaan teknis seperti perubahan peruntukan tanah wakaf masih menyita banyak waktu dan energi.
“Kita tentu tidak ingin menghabiskan energi hanya untuk hal-hal yang dampaknya tidak langsung dirasakan masyarakat. Kita ingin wakaf ini berdampak langsung pada peningkatan kualitas hidup umat,” tegasnya.
Lebih lanjut, Kamaruddin mengungkapkan bahwa dari seluruh tanah wakaf yang ada, hanya sekitar 9 persen atau 45.000 titik yang memiliki nilai ekonomis dan dapat diproduktifkan. Dari jumlah itu, sekitar 4.000 titik telah dikelola secara produktif, antara lain dalam bentuk wakaf pertanian, peternakan, perikanan, dan hutan wakaf.
“Masih ada sekitar 40.000 titik yang punya potensi ekonomi tapi belum dikembangkan. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi kita semua,” ujarnya.
Lebih lanjut, Kamaruddin mendorong penguatan kapasitas dan sertifikasi nazhir sebagai pilar penting dalam pengembangan ekosistem wakaf. Saat ini, sekitar 5.000 nazhir telah tersertifikasi. Ia berharap angka ini terus meningkat agar pengelolaan wakaf menjadi lebih profesional dan berdampak luas.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan Kementerian Keuangan, Aji Budiarto, menyampaikan bahwa arah pembangunan ekonomi nasional ke depan akan difokuskan pada empat strategi utama.
“Arah kebijakan ekonomi ke depan meliputi optimalisasi pembiayaan sektor produktif, penguatan mitigasi risiko pasar, percepatan deregulasi untuk mendukung swasta, serta peningkatan inklusi keuangan berbasis digital,” kata Aji.
Ia menilai, jika BWI mampu mengelola aset wakaf secara produktif, maka kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi akan semakin signifikan.
Aji juga menekankan pentingnya literasi digital dan keuangan dalam mendorong penguatan ekosistem ekonomi syariah. Ia menyebutkan bahwa Indonesia menunjukkan kinerja yang menjanjikan di tingkat global.
“Indonesia saat ini menempati peringkat ketiga dunia dalam Global Islamic Economic Indicator (GIEI) 2024-2025. Kita juga berada di posisi pertama dalam sektor modest fashion serta kedua di sektor pariwisata ramah muslim dan farmasi, termasuk kosmetik halal,” ujarnya.
Dalam sektor keuangan syariah, market share nasional telah mencapai 11,45 persen pada akhir 2024. Aset perbankan syariah tumbuh 9,8 persen secara tahunan menjadi Rp980,3 triliun. Sementara itu, pembiayaan dan Dana Pihak Ketiga (DPK) masing-masing tumbuh sebesar 12,2 persen dan 9,8 persen.
“Kinerja pasar modal syariah juga stabil. Sukuk dan saham syariah menunjukkan tren positif yang turut memperkuat sektor keuangan syariah secara keseluruhan,” tambah Aji.
Seminar nasional ini turut menghadirkan enam pembicara dari berbagai institusi keuangan syariah dan regulator. Mereka adalah Sigit Suryawan (Group Head Digital Business PT Bank Mega Syariah), Dwi Irianti (Direktur Keuangan Sosial Syariah KNEKS), Dadang Muljawan (Direktur Eksekutif DEKS BI), Dien Sukmarini (Asisten Direktur Senior Direktorat Pengembangan Pasar Modal dan Pasar Modal Syariah OJK), Imat Ni’matullah (VP Islamic Ecosystem Solutions Bank BSI), serta Gunawan Setyo Utomo (Deputi Direktur Senior OJK DPBS).
Acara ini dipandu oleh Kepala Divisi Pengembangan Strategis dan Transformasi Digital BWI, Arief Rohman Yulianto, sebagai moderator.
![]()
